oleh

Kendaraan Besar Beroperasi di Jalan Sumedang – Wado. Warga Resah Karena Ancam Keselamatan

SUMEDANGEKSPRES.COM  – Warga mengapresiasi himbauan Bupati Sumedang H Dony Ahmad Munir terkait larangan penggunaan jalan di jalur jalan provinsi Jawa Barat, atau jalan Rd Umar Wirahadikusumah yang meliputi jalur Sumedang-Wado.

Adanya aktivitas angkutan mobil besar pengangkut hasil tambang sering kali membuat pengguna jalan lainnya merasa resah dan tidak nyaman.

Salah satu pengguna jalan asal Kecamatan Darmaraja, Haris menyebutkan, dulu jarang ada mobil besar yang melintas di jalur tersebut. Ada pun bus dan truk biasa yang mengangkut bahan bangunan.

“Kalau dulu langka sekali ada mobil besar melintas di jalur ini, tapi sekarang jadi sering mobil besar melintas di jalur ini,” katanya.

Dikatakan, ketidak nyamanan yang disebabkan oleh aktivitas mobil besar tersebut bukan hanya kerusakan jalan saja, namun juga kemacetan dan rawan kecelakaan.

“Selain jalan rusak, kalau mobil tersebut sedang beraktivitas sering terjadi kemacetan,” tegasnya.

Warga berharap, pihak terkait harus segera mengambil tindakan untuk menertibkan kendaraan besar tersebut. Minimal ada batasan aktivitas di jam-jam tertentu.

“Kalau saya liat himbauan Bupati Sumedang di media sosial, jalan ini jalan kelas tiga yang tidak diperuntukan untuk aktivitas mobil pengangkut hasil tambang, maka pihak terkait harus tegas,” katanya.

Warga lainnya, Agus asal Kecamatan Ganeas menerangkan, akses jalan Sumedang-Wado saat ini lebih sering di tambal dan kembali rusak. Hal itu jadi salah satu dampak adanya aktivitas mobil truk besar.

“Jalan juga sering ditambal, tapi rusak lagi. Mungkin itu salah satu dari dampak adanya kendaraan angkutan yang bernotase tidak sesuai dengan kelas jalan,” kata dia.

Sebelumnya, Bupati Sumedang H Dony Ahmad Munir melalui unggahan akun Instagramnya menyoroti masalah truk tronton yang lalu – lalang di ruas Jalan raya Sumedang – Wado. Truk – truk bertonase besar itu mengangkut batu hasil tambang.

“Kelas dan klasifikasi jalan Sumedang – Situraja – Cisitu – Darmaraja – Wado merupakan jalan kelas 3 yaitu jalan arteri dan kolektor dengan fungsi dan dimensi serta muatan sumbu terberat (MST) 8 ton,” kata bupati pada akun resminya, dony_ahmad_munir 16 jam lalu.

Disebutkan, keberadaan truk – truk tersebut tentunya tidak sesuai dengan kapasitas serta kelas jalan.

“Akibatnya kerusakan jalan provinsi lebih cepat dan terjadi kemacetan,” sambungnya.

Dalam instagramnya, bupati mengaku sudah menyurati pihak – pihak terkait, untuk menghentikan truk – truk itu beroperasi.

“Saya, Bupati Sumedang sudah berkirim surat ke Dishub Provinsi Jabar dan berkoordinasi juga (dengan) kepolisian untuk menertibkan mobilisasi angkutan truk supaya dengan ketentuan/tonase yang diperbolehkan sesuai kelas jalan,” tuturnya.

Pernyataan bupati tersebut sontak dibanjiri komentar netizen, yang memang merasa terganggu saat berkendara di sepanjang ruas jalan penghubung Sumedang dengan Malangbong itu.

“Tah yang selama ini aku keluhkan,” ujar pemilik akun sakihaddad.

“Alhamdulillah pa kedah tegas,” timpal pemilik akun pundapn.

“Cobi cek deui di truk na Aya seratan proyek nasional KCIC,” sebut pemilik akun instagram ajat291163. (eri/red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *