Asal Usul Alat Musik Gendang yang Berasal Dari Bahasa Jawa

Kendang atau Gendang
Asal Usul Alat Musik Gendang yang Berasal Dari Bahasa Jawa
0 Komentar

sumdangekspres – Asal Usul Alat Musik Gendang yang Berasal Dari Bahasa Jawa

Kendang atau Gendang adalah alat bunyi-bunyian berbentuk kayu bulat panjang yang berasal dari Jawa Timur. Di dalamnya terdapat rongga dan salah satu atau kedua ujungnya diberi kulit. Alat musik ini merupakan bagian integral dari tradisi musik Jawa, seperti gamelan dan karawitan.

Kata “Kendang” (dari bahasa Jawa) merujuk pada jenis alat musik membranofon yang terbuat dari kulit. Sejarahnya dapat ditelusuri hingga zaman logam prasejarah di Indonesia, dengan beberapa spesimen tertua diyakini berasal dari masa neolitikum. Awalnya, kendang dikenal di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, sejak pertengahan abad ke-9 Masehi. Alat musik ini memiliki beragam nama di berbagai daerah, seperti padahi, pataha, murawa, mrdangga, dan lain-lain.

Baca Juga:Jelang Pilkada 2024, Saling Kunjung Jadi Fenomena BaruPetani Meradang, Tanaman Padi Baru Ditanam Rusak

Pada masyarakat Bali, kendang telah dikenal sejak zaman dulu, yang ditunjukkan oleh keberadaan prasasti Sukawana berangka tahun 882 M yang menyebutkan instrumen kendang. Sementara di masyarakat Sunda (Jawa Barat), kendang mulai dikenal sekitar tahun 1584 bersamaan dengan masuknya kesenian wayang golek ke Jawa Barat, terutama di Cirebon.

Kendang memiliki berbagai bentuk, ukuran, dan bahan pembuatan yang digunakan. Hal ini terlihat dalam relief-relief candi seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Tegowangi, dan Candi Panataran. Kesamaan penyebutan alat musik kendang dalam sumber tertulis Jawa Kuno dan India menunjukkan adanya kontak budaya antara kedua wilayah tersebut dalam bidang seni pertunjukan. 

Meskipun demikian, tidak dapat disimpulkan bahwa kendang Jawa memiliki pengaruh dari India, karena jenis alat musik membranofon ini diyakini telah ada sebelum kontak budaya terjadi.

Selain kendang, juga terdapat jenis alat musik lain yang menggunakan selaput kulit, seperti trebang dan bedug. Dalam berbagai kitab kuno seperti Kakawin Hariwangsa, Ghatotkacasraya, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Malat, istilah-istilah yang merujuk pada instrumen musik ini juga disebutkan.

0 Komentar