SUMEDANG EKSPRES, Tanjungsari – Pemerintah Kecamatan Tanjungsari mulai tancap gas memperkuat strategi kesehatan sejak awal tahun 2026. Bersama UPTD Puskesmas Margajaya, upaya tersebut dirumuskan dalam Lokakarya Triwulan (Loktri) I yang digelar di Aula Rapat Kecamatan Tanjungsari, Senin (13/4/2026).
Forum ini menjadi titik awal komitmen bersama untuk menekan bahkan meniadakan kasus penyakit menular dan masalah gizi kronis di wilayah tersebut. Empat isu utama menjadi fokus pembahasan, yakni campak, tuberkulosis (TBC), stunting, serta kesiapan menghadapi Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forkopimcam, lima kepala desa Gunungmanik, Margajaya, Raharja, Cinanjung, dan Kutamandiri serta perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang. Mereka duduk bersama menyusun langkah konkret agar target kesehatan dapat tercapai secara terukur.
Baca Juga:Harga Bahan Pokok Relatif Stabil, Stok Dipastikan Aman di Sumedang
Camat Tanjungsari, Agus Beni Triadhie, mengungkapkan hasil evaluasi triwulan pertama menunjukkan perlunya penguatan layanan kesehatan, terutama dari sisi sarana dan prasarana. Ia menilai beban pelayanan Puskesmas Margajaya cukup tinggi meski hanya melayani lima desa dengan jumlah penduduk yang padat.
Ia pun mendorong adanya peningkatan fasilitas fisik puskesmas agar pelayanan kepada masyarakat semakin optimal. Selain itu, pemanfaatan aplikasi Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) dinilai penting untuk membuka peluang dukungan anggaran.
Agus juga mengingatkan agar penanganan stunting tidak kendor. Meski isu tersebut tidak lagi ramai seperti sebelumnya, perhatian terhadap tumbuh kembang anak harus tetap menjadi prioritas utama pemerintah dan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Sumedang, Tatang, menyoroti masih tingginya kasus TBC. Ia menyebut Indonesia saat ini masih berada di peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC, sehingga penanganannya perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
Menurutnya, melalui program Desa Siaga TBC, pemerintah mendorong pengawasan ketat terhadap kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan selama enam bulan. Peran keluarga serta lingkungan sekitar seperti RT dan RW menjadi kunci untuk menjaga konsistensi pasien agar tidak putus obat.
Selain itu, kondisi lingkungan tempat tinggal juga menjadi faktor penting. Rumah dengan ventilasi yang baik dan cukup paparan sinar matahari dinilai mampu membantu menekan penyebaran bakteri TBC.
