Hidup sebagai pejabat tertinggi negara tetap membuat Umar ikut berempati dan merasakan apa yang rakyatnya alami ketika itu. Dikatakan, jika sebelum paceklik ia biasa mengonsumsi susu dan roti, pada tahun susah ini ia hanya memakan roti diolesi cuka dan minyak. Tak pernah ia makan sampai kenyang. Sampai-sampai badannya kurus dan warna kulitnya menghitam. Semua orang sampai khawatir kesehatan sang khalifah akan memburuk.
Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat-nya mencatat, pada masa ‘Âmur Ramâdah Umar sangat khawatir dengan keadaan rakyatnya. Ketika setiap selesai menjadi imam shalat Isya di masjid, ia akan masuk ke rumah dan terus melaksanakan shalat sampai akhir malam.
Selesai shalat, ia berpatroli mengelilingi penjuru Madinah. Ibnu Umar berkata: “Sekali malam aku mendengar Umar memanjatkan doa begini, ‘Ya Allah, jangan kau jadikan masa pemerintahaku sebagai kehancuran bagi umat Muhammad.’”
Baca Juga:Cuaca Ekstreme, Peternak Harus WaspadaDrainase Ruas Wado-Sumedang Perlu Perbaikan
Ibnu Katsir mengikhbarkan kondisi mencekam saat tahun paceklik ini. Saat Umar berpatroli, ia melihat semua wajah rakyatnya sangat murung tak ada senyum sedikit pun, di rumah-rumah mereka terdiam tidak ada percakapan satu sama lain, begitu pun tidak ada orang yang meminta-minta seperti biasanya.
Salah satu langkah yang Umar lakukan untuk memastikan keadaan rakyatnya baik-baik saja di tengah paceklik yang melanda adalah dengan berpatroli dari satu rumah penduduk ke rumah lainnya. Hingga suatu malam, ia berkeliling untuk melakukan pemantauan. Saat itu dia pergi seorang diri.
Zaid bin Aslam yang melihat Sang Khalifah lantas meminta izin untuk mendampinginya. “Izinkan aku untuk mendampingimu, wahai Amirul Mu’minin,” pinta Zaid. “Ya, silakan,” jawab Umar.
Mereka berdua berkeliling kota Madinah dan sekitarnya. Hingga sampai di luar Madinah, tampak dari kejauhan sebuah cahaya. “Sepertinya di sana ada musafir (orang yang sedang melakukan perjalanan),” kata Zaid.
Penasaran, keduanya pun mendekati sumber cahaya itu. Ternyata itu adalah nyala api milik wanita janda tua dengan tiga anak kecil yang semuanya sedang menangis. Wanita itu sedang memasak sesuatu di panci sambil menyumpahi Umar dalam doanya.
