“Wahai Tuhanku, berilah balasan terhadap Umar. Ia telah berbuat dzalim. Enak saja, kami rakyatnya kelaparan sementara dia hidup serba berkecukupan,” kata si wanita.
Mendengar ucapan wanita itu, Umar pun menghampirinya dan mengucapkan salam. “Bolehkah kami masuk?”, kata Umar dengan lembut. “Silakan,” jawab si wanita. Dia tidak tahu bahwa lelaki yang menghampirinya adalah Sang Khalifah.
Umar menanyakan tentang kondisinya dan keadaan anak-anaknya. “Kami datang dari jauh. Aku dan anak-anakku kelaparan. Aku tidak punya apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa,” terang wanita itu dengan nada sendu. “Lalu, apa yang kau masak di panci ini?” “Itu hanya air mendidih. Agar anak-anak mengira aku sedang memasak makanan. Dengan begitu mereka akan terhibur.”
Baca Juga:Cuaca Ekstreme, Peternak Harus WaspadaDrainase Ruas Wado-Sumedang Perlu Perbaikan
Mendengar semua itu, Umar sangat malu, sedih, dan tentu merasa sangat berdosa. Ia pun berpamit untuk pergi dan menuju ke sebuah toko untuk membeli banyak sembako (riwayat lain menyebut ia menuju baitul mal). Ia memanggulnya menuju kediaman wanita tadi. “Wahai Amirul Mu’minin, turunkan bawaanmu, biar aku saja yang memikulnya,” pinta Zaid. “Jangan, biar aku saja yang membawanya. Anggap saja aku sedang memikul dosa-dosaku, juga semoga menjadi penghalang dikabulkannya doa wanita itu tadi,” tegas Umar. Sambil memikul sekarung sembako yang begitu berat menuju rumah wanita janda itu, ia terus menangis karena sangat merasa berdosa.
Sesampainya di rumah wanita, Umar memberikan semua sembako itu. “Semoga Allah memberimu balasan terbaik,” kata si wanita. Tidak hanya sampai di situ. Umar pun ikut memasakkan untuk mereka. Setelah makanan siap, Umar mempersilakan mereka untuk menikmatinya. “Silakan, sekarang kalian semua bisa makan,” kata Umar, senyumnya melebar melihat wajah-wajah mereka yang tidak lagi murung. “Ibu, mulai sekarang tidak perlu lagi mendoakan keburukan untuk Umar, ya. Mungkin dia belum mendengar kabar ada kalian kelaparan di sini,” kata Umar dengan lembut.
Dari kisah Umar dengan wanita janda itu dapat dipetik hikmah, seorang pemimpin harus berlaku seadil-adilnya terhadap rakyat. Saat rakyat sengsara, pemimpin harus segera mengambil langkah cepat agar segera teratasi. Kita lihat, saat Umar tahu ada satu rakyatnya yang kelaparan, ia dengan tanggap memberi subsidi langsung dan tepat sasaran.
