Tidak Ada Lagi Desa Tertinggal di Jabar

Tidak Ada Lagi Desa Tertinggal di Jabar
Tidak Ada Lagi Desa Tertinggal di Jabar (ist)
0 Komentar

 

Ia menyebutkan, terdapat desa 10 di Jabar dengan nilai IDM tertinggi. Yakni: Desa Panjalu (Kab. Ciamis), Desa Lengkong (Kab. Bandung), Desa Dayeuh, Desa Bojong Kulur, Desa Pondok Udik, Desa Bojonggede (Kab. Bogor), Desa Bungursari, Desa Wanakerta (Kab. Purwakarta), dan Desa Pangandaran (Kab. Pangandaran).

“Khusus Desa Panjalu, juga masuk dalam 10 besar desa mandiri secara nasional”, ungkap Kepala DPMD Jabar.

Namun demikian, meskipun status desa di Jabar masuk dalam kategori maju secara rata-rata. Tetapi dari indeks komposit ekonomi masih terbilang rendah. Dengan poin 0,6956 jika dibandingkan dengan indeks komposit sosial sebesar 0,8367 dan indeks komposit lingkungan sebesar 0,7264.

Baca Juga:Empat Tahun Masa Kepemimpinan Dony Ahmad Munir,  Akui Ada PRRTH Kahatex Dimanfaatkan Masyarakat Bertanam

“Artinya ini menunjukkan bahwa sektor ekonomi desa perlu adanya perhatian yang cukup besar, dan intervensi atau treatmentsecara serius,” tegasnya.

Kendati demikian, DPMD Jabar telah menyusun 2 (dua) model strategi intervensi kebijakan. Yakni Intervensi Program berbasis Data IDM oleh Perangkat Daerah sesuai kewenangan dan membangun Desa percontohan melalui intervensi program bersama Perangkat Daerah lainnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, desa di Jabar kini banyak yang semakin juara. Di awal kepemimpinannya ada 929 desa berstatus tertinggal.

Ia menyebutkan, seluruh desa di Jabar saat ini tak ada lagi desa tertinggal. Bahkan total desa mandiri meningkat signifikan dari 37 menjadi 1.130 desa.

“Desa di Jabar sudah makin juara. Dari 929 desa tertinggal setelah saya menjabat jadi nol. Desa mandiri juga selama tiga tahun yang awalnya 37 desa sekarang 1.130 desa,” kata Ridwan Kamil.

Menurutnya, peningkatan kualitas hidup masyarakat desa penting digulirkan agar tidak ada lagi dikotomi masyarakat yang tinggal di kota dan desa.

“Itu sebabnya, beragam program pembangunan, sebisanya selalu menyertakan pemberdayaan masyarakat desa. Program-program seperti desa wisata, patriot desa, hingga petani milenial, adalah upaya bersama,” tuturnya.

Baca Juga:Pergantian Kompor Harus Lihat ResikonyaPuluhan Tahun Sumedang Bebas Rabies

Menurut eks Wali Kota Bandung itu, kehadiran digital dalam pembangunan desa sangat diperlukan. Maka dari itu, berbagai program desa berbasis teknologi selalu dia gulirkan.

“Makanya tadi saya bilang konsepnya adalah tinggal di desa, rezeki kota, bisnis mendunia. Tanpa digital, kalimat itu tidak bisa karena dengan digital hidup di mana pun sekarang tidak ada masalah. Jadi peran desa digital itu luar biasa mengangkat,” ucapnya.

0 Komentar